Senin, 16 Mei 2016

DI BAWAH PURNAMA LANGIT ISTANBUL

Malam ini setelah Shalat Isya di Masjid Biru Andra memutuskan untuk berjalan-jalan di pinggiran Selat bosporus untu k menikmati panoroma kota Istanbul, tampak ditengah selat bosporus kapal-kapal terapung dengan lampu-lampu indah malam di kota sebrang selat sana. Hembusan angin malam yang menerpa wajahnya dan bunyi suara kendaraan yang berlalu lalang di ruas jalan di beberapa puluh meter di belakangnya ditambah suara burung di sepanjang pinggiran bosporus membawa ingatannya ke dalam waku 4 tahun yang lalu. tiga hari sebelumnya adalah hari yang cukup melelahkan baginya. Tiga hari lalu ia terbang dari Jakarta ke Tashkent, Uzbekistan bersama orang-orang pentingnya untuk membicarakan kerjasama sekaligus ekspansi perusahaan minyaknya bersama beberapa pengusaha Tashkent untuk melakukan ekplorasi ladang migas di beberapa negara timur tengah, terutama di negara kaya minyak Libya, Tunisia, Maroko dan Kuwait.
Kemudian ia terbang lagi ke Brussels, Belgia terkait urusan izin usaha cabang perusahaan Retailnya dengan pemerintah Belgia. Andra memiliki lima Perusahaan Retail di sejumlah kota di Belgia ini. Kemudian terbang lagi ke Maroko dan Tunisia terkait pengurusan izin ekplorasi perusahaan minyak barunya di dua negara ini, 2 negara ini adalah paling awal sebelum beberapa negara lainnya. Terakhir terbang ke Istanbul, Turki kota paling disukainya di daratan Eropa dan diantara kota dunia lainnya. Di kota ini banyak kisah masa lalu saat ia menempuh pendidikan di Istanbul, terutama kisah cinta dan perasaannya terhadap Haya Maktoum, Mahasiswi Asal Dubai, seorang Anak Duta besar Dubai untuk Turki yang berprofesi sebagai dokter. 1 tahun yang lalu haya hilang tanpa kabar saat menjadi relawan di zona konflik Perbatasan jalur Gaza. Ia adalah satu-satunya wanita paling mengagumkan baginya. Cinta pertama sekaligus terakhir bagi Andra. Hingga detik ini, tidak ada sosok wanita yang dapat menggantikan haya dalam hatinya. Karna hidup hanya sekali, maka jatuh cinta pun cukup hanya sekali dalam prinsip hidupnya. Untuk itu, ketika singgah ke kota Istanbul, maka ia selalu ke pinggiran selat bosporus.
Kisah yang tidak akan pernah bisa dilupakan oleh Pengusaha Muda tersukses Asal Indonesia ini. Dia usianya yang baru 26 tahun pada Februari Lalu, Ia sudah dinobatkan oleh Majalah Forbes sebagai orang terkaya nomor 32 di dunia dan menempati orang terkaya nomor 5 di Asia. Di usianya yang masih muda memungkin Andra akan menambah pundi-pundi kekayaan mengingat perusahaan-perusahaan besarnya di berbagai negara Eropa, Amerika dan Asia yang tengah menujukkan grafik laju pesat dan menggurita. Namun dg kekayaan berlimpah tersebut ia belum dapat menemukan kebahagian dalam hdupnya. Will Be next. .

Sabtu, 30 April 2016

STAI Auliaurrasyidin Buka dua Prodi Baru

Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Auliaurrasyidin sebagai salah satu perguruan tinggi swasta di kabupaten Indragiri Hilir yang sebelumnya hanya memiliki dua program studi PAI dan PGMI kini menambah dua prodi baru yakni Prodi PGRA dan Ekonomi Syariah. 
Penambahan Program studi baru ini juga diikuti oleh pembangunan fisik dan non-fisik kampus. mulai dari penambahan gedung untuk kelas-kelas perkuliahan dan lain sebagainya. Pendaftaran untuk empat prodi sudah dibuka pada bulan April 2016 untuk tamatan SMA/MA  dan sederajat.

Senin, 21 Maret 2016

Sebuah Novel: Surat Cinta dari Roma


Aram tidak pernah memimpikan hari ini ia berkuliah Progam Master di Universitas Oxford, Inggris. Salah satu deretan teratas Universitas Terbaik dan bergengsi di dunia. Pagi ini ia menginjakkan kakinya di Tanah Britania bersama Rudi, temannya dari Jawa Tengah. Kota London dan kota-kota Eropa lainnya sedang memasuki Musim dingin, sinar mentari pagi tak mampu menghangatkan udara kota London. Ia dan Rudi mengenakan jaket tebal untuk mengurangi rasa dingin tubuhnya. Sudut-sudut kota dipenuhi tumpukan salju dimana-mana, ada tumpukan salju di tepian jalan, menempel di dinding dan atap-atap gedung, bergelayut pada dahan-dahan dan ranting pohon. Mulai hari ini ia akan memulai sejarah hidupnya yang baru. Ia meninggalkan Indonesia, setelah ayah, orang satu-satunya di dunia ini meninggalkannya untuk selamanya. Ia pergi ke London setelah 2 bulan kewafatan ayahnya. Untuk itu ia juga rela meninggalkan salah satu orang terdekatnya di dunia ini setelah ayahnya, Rani, Si Gigi Kelinci, teman dekatnya selama kuliah di Fakultas Sastra. Yang selalu memberi semangat, penghibur dikala senang dan susah. Sebuah kesemptan emas diberikan kepadanya mendapatkan beasiswa dari kementerian Pendidikan. Sempat ditolaknya awalnya. Namun Aram berjanji pada Rani, setelah ia selesai menempuh pendidikan di Eropa. Ia akan kembali ke Indonesia.

Aram hari ini ketika berada di depan gerbang kampus yang megah dan klasik berasa mimpi, Jangankan kuliah Master di luar negeri untuk biaya kuliah sarjana di tanah air saja, Aram banting tulang mencari biaya. Karana, Aram bukan orang berada. Ayahnya hanya seorang buruh serabutan pada sebuah pabrik dikotanya. Sebuah kota kecil yang berada di pinggiran sebuah sungai. Sambil kuliah, ia bekerja paruh waktu untuk sebuah bengkel. Itu tidak cukup, untuk itu ia juga bekerja di koran harian dikotanya. Meski berasal dari keluarga kurang berada namun ayahnya selalu menanamkan nilai-nilai kebaikan, kerja keras dalam diri Aram. Aram seorang Piatu. Ibunya sudah pergi untuk selamanya ketika Aram dilahirkan ke dunia. Sejak kecil Ia sering rindu akan ibunya. Kenapa teman-teman Aram punya ibu. Sedangkan ia tidak? Kenapa teman-temannya bisa bercanda tawa dengan ibunya. Sedangkan ia tidak? Kenapa Tuhan Tidak Adil padanya? Pertanyaan-pertanyaan yg timbul dari pikirannya itu sering membuatnya meneteskan air mata tanpa sadar sejak kecil di sebuah tempat biasa, di tepian sungai yang sejuk serta airnya yg jernih yg berada di tepian kotanya, menjadi tempat yang selalu ia datangi merenungi nasib dan jalan hidupnya. Sejak kecil ia hidup bersama ayahnya di kota kecil ini. Sebenarnya Aram memiliki saudara laki-laki kandung, Aral. Umurnya berpaut 7 tahun. Namun sayang Aral merantau entah kemana setelah ia Tamat SMP, meninggalkan Ayahnya bersama dirinya di kota ini. Aram dan ayahnya menjalani kehidupan berdua di kota ini, di rumahnya yg berada di tepian sungai dengan segala keterbatasan. Will be next. .

Selasa, 01 Maret 2016

Tentang Keluarga Kecil bernama "Kelas"

Warga Mahasiswa PGMI A angk. 13
Ini keluarga kecil bernama kelas sejak september 2013 yang lalu. hari ini sudah tidak terasa sudah berada di semester enam, artinya kebersamaan di dalam menuntu ilmu di satu kelas hanya tinggal beberapa bulan ke depan saja. sudah hampir enam semester kita sama-sama belajar bersama di dalam ruangan bernama kelas.
Banyak hal yang telah di lalui bersama di dalam ruangan bernama kelas. ya, kelas PGMI A Angkatan 13 STAI Tembilahan. Sebuah kelas yang penuh canda tawa, dinamika kehidupan belajar. 
mereka punya karakter dan kepribadian yang unik masing-masing, 32 mahasiswa berarti ada 32 karakter yang berbeda. menyatu dalam kelompok sosial bernama kelas. macam-macam pokoknya. kami semua punya cita-cita yang sama, tentunya karena alasan prodi yang kami pilih sebelum masuk di perguruan tinggi ini. ya, Guru kelas Anak MI atau SD. orang yang akan mendidik pendidikan dasar anak bangsa. kamilah agen-agen yang nantinya arsitek pembuat fondasi pendidikan anak bangsa ini..tidak ada yang menyangkal bahwa pembangunan dan pendidikan akar kehidupan seorang manusia sangat urgensi. karna pendidikan dasar inilah nantinya akan menjadi peletak dasar bagi pengetahuan, keterampilan dan kepribadian dan akhlak anak bangsa ini. WE ARE  AN EDUCATOR NOT ONLY TEACHER.

Takdir, Jalan Hidup dan kehidupan Kita berbeda



Takdir dan jalan hidup setiap orang dikehidupan dunia ini berbeda. Tidak ada yang sama. Tujuh Miliar manusia yang menjalani kehidupan hari ini, takdir dan jalan hidupnya berbeda. Juga miliar-an manusia yang pernah hidup di kehidupan dunia ini jalan hidupnya juga berbeda. Takdir hidupnya, jalan hidupnya sudah dituliskan sebelum ia dilahirkan dalam kehidupan ini. Manusia hanya bisa menulis takdir dan jalan hidupnya yang bernama Ikhtiar.

Tapi yang paling penting atas takdir kita adalah adalah penerimaan. melakukan yang bisa dan terbaik apa yang bisa kita lakukan atas kondisi yang telah ditentukan atas kita. jangan bandingkan dengan takdir dan jalan hidup orang lain. karena tidak sama. semua orang di kehidupan ini memilki "apa-apa" yang berbeda. tetap syukuri dan berikhtiar atas kehidupan yang diberikan sang Khalik di atas hamparan bumi ini...

Senin, 29 Februari 2016

Novel RTDW, Membaca dan Malamku

Novel RTDW Karya Tere Liye
Sepi di larutnya malam. Di depan rumah di bawah sinar rembulan yang bersinar. hanya terdengar suara jangkrik dan burung-burung walet di seberang jalan sana, menambah suasana larutnya malam ini. hembusan dingin semilir angin yang menerpa wajah menambah kantuknya mata.   suasana tenang ini, menjadi suasana yang paling pas untuk membaca.  
satu buah buku novel ini menjadi penahan rasa kantuk di mata. karena, ingin menghabiskan isi jalan cerita dalam novel ini yang berkisah tentang seorang anak manusia yang selalu dirundung kehilangan orang-orang yang dicintainya sejak kecil hingga akhir kehidupannya...
Tentang kisah Kenapa Tuhan Mengabil sumber kebahagiannya? Ya, Orang Tua yang tak akan pernah ia lihat sejak kecil di dunia ini, hingga  Si Gigi Kelinci yang merupakan cinta PERTAMA dan TERAKHIRNYA...
Larut dalam kisah Ray dalam Novel ini... Rembulan Tenggelam di Wajahmu..

Sabtu, 20 Februari 2016

Sajak-Sajak Perasaan

Apakah cinta itu menyakitkan? Tidak. Cinta itu justeru adalah energi terbaik untuk memastikan dunia ini seimbang dan survive. Lantas apa yang menyakitkan itu? Bukan cintanya, melainkan seperti: ditolak, itu sakit. Kesepian, itu juga sakit. Dilupakan, dikhianati, ditinggalkan, itu baru sakit. Kangen, terpisah oleh jarak, terkena tembok masalah, dsbgnya, dsbgnya, itu juga baru sakit. Kalau cintanya sih tidak.

Esensi cinta itu persis seperti seorang Ibu yang baru melahirkan, meski si bayi itu suka ngompol, dikit2 nangis, malam-malam terbangun, kurang tidur, badan letih, sampai sakit, tapi tetap saja si Ibu merawat bayinya dengan tulus, bukan? Energi apa yang membuat Ibu tersebut tetap melakukannya? Karena ada cinta di sana. Energi terbaik untuk memastikan dunia baik2 saja.

Lantas bagaimana mungkin kita sakit oleh cinta? Karena kita terkena duri kulit luarnya. Bukan karena substansi dalamnya.

Ketika seorang pemuda malang, jatuh cinta kepada gadis idaman, dan ternyata si gadis justeru menikah dengan orang lain, apakah cinta yang membuat si pemuda sakit hati? Tidak. Karena coba tanya saja ke pemuda itu, “Apakah, yang PENTING itu kau sendiri yang bahagia, atau gadis itu yang bahagia?” Para pencinta sejati pasti akan memilih: lebih baik gadis itu yang bahagia dengan orang yang memang dicintai gadis tersebut. Bukankah begitu jawabannya? Tapi kenapa kita masih tetap merasakan sakit? Bukan cintanya yang mengiris hati, melainkan karena kehilangan, karena ditolak, karena bertepuk sebelah tangan, itulah yang membuatnya sakit. Karena tidak terpenuhi harapan, karena bagai pungguk merindukan bulan, karena seperti roda belakang menatap roda depan, itu yang sakitnya sampai ke dalam sini.

Tapi, kan kalau saya tidak jatuh cinta di awal cerita, semua kondisi itu tidak akan terjadi, bukan? Kalau saya tidak jatuh cinta dengan gadis itu, bodo amat dia mau menikah dengan siapa, bukan urusan saya. Bukankah jelas sekali karena cinta itu yang menjadi penyebab semua masalah? Tidak. Lagi-lagi tidak, melainkan kitalah yang tidak pernah mau memahami resiko jatuh cinta itu sendiri. Kita sendiri yang lupa resiko, memegang api pasti terbakar, bermain hujan pasti basah. Pun saat jatuh cinta, pasti ada resiko berpisah (mau diterima atau tidak cintanya, mau menikah atau tidak, pasti berpisah).

Sayangnya, tidak ada mata pelajaran di sekolah-sekolah yang bisa mengajarkan esensi cinta. Tidak ada di Sejarah, juga tidak di IPS, IPA apalagi di pelajaran Matematika. Buku-buku, novel-novel, mungkin membahas tentang cinta, tapi itu terbatas pada kisah yang diceritakan, dengan sudut pandang si penulisnya. Film, apalagi, itu hanya proyeksi dari sutradara, penulis skenario. Tidak ada kursus singkat tentang cinta, tidak ada sekolah, jurusan, fakultas cinta. Semua orang harus menjalani sendiri pelajaran cinta itu dalam kehidupannya. Ada yang berhasil meraih esensi terbaiknya, ada yang hanya berkutat pada perasaan jatuh cinta anak muda kebanyakan. Tulisan ini pun tidak akan kuasa menjelaskan apa itu esensi cinta.

Jadi sebagai penutup, ingatlah selalu, cinta itu tidak pernah “jahat”. Yang jahat, meyakitkan, buruk, bikin sakit hati adalah kulit luarnya yang boleh jadi memang berduri dan penuh jebakan.

Tidak masalah satu dua kita tertusuk dalam sekali, dek, membuat nyeri hati sepanjang hari, minggu bahkan ada yang bertahun2, namanya juga masih belajar. Tidak masalah kita teriris sembilu hingga membuat dunia seperti terbalik setiap malam tiba, setiap menatap hujan, atau hanya sekadar disebut nama kota-nya, sudah membuat terdiam kelu. Tidak mengapa, namanya juga kita tidak pernah latihan menghadapi persoalan cinta ini. Tapi selalu pastikan, kita menjaga diri, menaati norma-norma, nilai-nilai kebaikan, kaidah-kaidah agama. Itu akan membuat kita tetap terkendali, dan tidak merusak. Besok lusa, boleh jadi kita lebih paham. Dan kita bahkan bisa benar-benar berdiri tegak seperti pemuda dalam contih tulisan ini, bisa berkata mantap: Tidak mengapa dia menikah dengan orang lain, sepanjang dia bahagia, aku pun turut bahagia.

*Tere Liye

SETIDAKNYA

Setidaknya perasaan itu sifatnya gratis. Rindu misalnya, tidak bayar sama sekali, kalau rindu itu sampai bayar, aduh, bisa jadi fakir semua para pencinta di dunia ini. Rindu satu jam bayar 10.000, rindu sepanjang tahun, berapa biayanya?

Setidaknya perasaan itu juga sifatnya tidak diskriminatif. Jatuh cinta misalnya, tidak ada diskriminasinya, kalau sampai ada, bisa jadi yang pesek dilarang jatuh cinta sama yang mancung, nyatanya boleh-boleh saja. Banyak yg pesek berjodoh sama yang mancung, malah kisah cinta mereka spesial.

Setidaknya perasaan itu juga sifatnya bukan ujian nasional. Kalau rasa sayang itu ada UN-nya, bisa jadi, angka kecurangan membumbung tinggi. Lihat saja, orang-orang bahkan ingin tahu sekali siapa yang melihat profile FB-nya? Bila perlu dengan software khusus.
Pada akhirnya, ketahuilah, setidaknya perasaan itu juga sifatnya berdiri sendiri. Bahkan ketika ditolak sekalipun, disuruh ngaca sana, dihina dsbgnya, kita tetap bisa bilang itu perasaan, bukan? Tetap bisa disebut cinta, tetap bisa dibilang sayang, bukan?

Maka lengkapilah dengan yang disebut: “kehormatan perasaan”, maka insya Allah kita bisa selalu menjaga diri. Jangan tumpah ruah perasaannya, bikin becek di timeline, jangan mau diajak berdua-duaan, dipegang-pegang, jangan mau. Jangan mau melakukan hal sia-sia hingga merusak diri sendiri. Barangsiapa bisa menjaga kehormatan perasaannya, dia akan bisa menjaga kehormatan dirinya.

*Tere Liye

BUKAN SEKEDAR

Cinta itu bukan sekadar berjumpa dan bersama.

Karena kalau itu, setiap hari banyak orang yang naik angkot/bus yang sama, berangkat sekolah/kantor, tapi tetap saja menggerutu. Tidak pernah jatuh cinta dengan angkot/bus tersebut.

Cinta itu bukan sekadar menyapa dan berbicara.

Karena kalau itu, setiap hari banyak orang yang berbusa2 bicara dengan orang yang sama, seperti petugas telepon, pengajar, penjaga toko, karyawan, dsbgnya, tapi tetap saja berkeluh kesan. Tidak pernah jatuh cinta meski begitu lama bicaranya.

Boleh jadi cinta itu adalah rasa syukur.
Mungkin pula cinta itu adalah rasa terima kasih.
Atau bahkan cinta itu adalah kedamaian hati.

SAJAK KAU HARUS TAHU 1

Kau harus tahu,
Sebongkah berlian tidak akan berkurang nilainya,
Meski ditemukan oleh orang yang tidak tahu betapa berharganya
Lantas dibuang begitu saja
Orang itu akan menyesal panjang

Maka,
Kau juga harus tahu
Seseorang yang amat berharga tidak akan berkurang nilainya
Meski disia-siakan oleh orang yang tidak pantas baginya
Lantas kemudian ditinggalkan begitu saja
Orang itulah yang akan menyesal panjang

SAJAK KAU HARUS TAHU 2

Kau harus tahu,
langit dan bumi tidak pernah menyatu,
tapi ketika hujan, mereka bisa bersatu erat saling bercengkerama begitu indah, atas setiap tetesnya.
Amat mesra saling menyapa.

Kau harus tahu,
lautan dan matahari tidak pernah menyatu.
tapi ketika sunset, matahari tenggelam di kaki langit sana,
maka garis horizon laut memeluk erat sang matahari.
Untuk besok berjanji kembali akan bersua
Di sini, di tempat yg sama, di waktu terjanjikan

Kau harus tahu,
bulan dan permukaan kolam jauh saja letaknya
tapi saat purnama, tataplah permukaan kolam yang tenang
maka bulan persis berada di dalam relung hatinya
Memantulkan bayangan begitu anggun
kebersamaan singkat yang begitu mempesona

Maka, apalagi kita?
Manusia yang tinggal di tanah yg sama
Kita tidak dipisahkan bagai langit dan bumi
Kisah cinta kita bisa begitu spesial
Di tangan orang-orang yang bersabar dan senantiasa tahu batasnya.
Sunggu percayalah

*Tere Liye

SAJAK KETIKA

Ketika kita mencintai seseorang
Hanya untuk tahu
Ternyata dia mencintai orang lain

Ketika kita menunggu begitu lama
Hanya untuk tahu
Ternyata dia justeru sedang menunggu (orang lain)

Ketika kita sudah melakukan yang terbaik
Tapi tetap gagal juga, hingga sesak bertanya
Harus sebaik apalagi usaha kita agar berhasil?

Ketika kita menginginkan sesuatu
Ternyata yang kita dapatkan sesuatu yang justeru tidak kita butuhkan
Membuat berseru kesal, kenapa dan kenapa?

Ketika kita tidak mengerti
Kenapa semua seperti berlawanan dengan maunya kita
Kenapa doa-doa kita seolah tidak terjawab

Maka, mungkin itulah saatnya
Tiba waktunya untuk menyadari
Boleh jadi ada skenario lebih indah telah menanti
Menunggu kita bersedia menerimanya
Tersenyum lapang bahwa semua baik-baik saja

Karena boleh jadi
Ketika kita mencintai seseorang, dan dia mencintai orang lain
Sebenarnya ada yang justeru sedang mencintai kita dalam diam

Ketika kita menunggu begitu lama, dan dia justeru sedang menunggu (orang lain)
Sebenarnya ada yang justeru tengah menunggu, kapan kita akan menoleh padanya

*Tere Liye

HANYA KATA-KATA

Sakit hati itu frase saja
Tergeletak begitu saja tanpa arti
Hingga kita mengalaminya sendiri
Barulah dia utuh bermakna: “sakit hati”

Rindu itu juga hanya kata-kata
Teronggok begitu saja tanpa makna
Hingga kita menemuinya sendiri
Barulah dia utuh hakikatnya: “rindu”

Pun “cinta”, itu kata-kata saja
Bisa dituliskan di mana-mana, kosong berdebu
Hingga kita menjalaninya sendiri
Barulah dia utuh definisinya: “cinta”

Apalagi menikah, itu mungkin status saja
Bisa ditype-ex jika ditulis di atas kertas
Hingga kita beranjak melaluinya
Barulah utuh maknanya: “menikah”

SAJAK SUNGGUH KAU BOLEH PERGI

Siang pasti digantikan malam
Sekeras apapun siang bertahan
Matahari pasti tumbang
Dan gelap menyelimuti
Siang pasti pergi
Dan sungguh kau boleh pergi

Kelopak bunga mawar pasti rontok
Sekeras apapun dia ingin mekar lama
Pasti tiba masanya layu
Dan tangkai-tangkai membisu
Bunga mawar pasti pergi
Dan sungguh kau boleh pergi

Hujan pasti reda
Selama apapun dia hendak turun
Pasti tiba masanya habis
Dan menyisakan basah di halaman
Hujan pasti pergi
Dan sungguh kau boleh pergi

Maka
Apalagi urusan perasaan
Cinta bisa berganti benci
Percaya memudar berganti kusam ragu
Pun komitmen menipis berubah jadi lupa
Kau boleh pergi
Sungguh boleh.

Tapi aku akan tetap di sini
Meyakini bahwa
Besok pagi, malam pun akan berganti siang
Mawar baru akan merekah ulang
Dan hujan berikutnya pasti kan datang

Kau sungguh boleh pergi.

*Tere Liye

SAJAK JALANKU MASIH PANJANG

Wahai perasaan
Kau buat pagiku jadi mendung, soreku jadi kelam
Kau buat siangku jadi gelap, dan malam semakin gulita
Kau buat beberapa menit lalu aku gembira, untuk kemudian bersedih hati

Wahai perasaan
Kau buat aku berlari di tempat
Semakin berusaha berlari, kaki tetap tak melangkah
Kau buat aku berteriak dalam senyap
Kau buat aku menangis tanpa suara
Kau buat aku tergugu entah mau apalagi

Wahai perasaan
Kau buat aku seperti orang gila
Mengunjungi sesuatu setiap saat, untuk memastikan sesuatu
Padahal buat apa?
Ingin tahu ini, itu, untuk kemudian kembali sedih
Padahal sungguh buat apa?

Wahai perasaan
Kau buat aku seperti orang bingung
Semua serba salah
Kau buat aku tidak selera makan, malas melakukan apapun
Memutar lagu itu-itu saja,
Mencoret-coret buku tanpa tujuan
Mudah lupa dan ceroboh sekali

Wahai perasaan
Cukup sudah
Kita selesaikan sekarang juga
Karena,
Jalanku masih panjang
Aku berhak atas petualangan yang lebih seru

Selamat tinggal
Jalanku sungguh masih panjang….

SAJAK MENCINTAIMU DALAM SENYAP

Ketika kami tidak tahu harus apalagi
Gelap di sekitar, penuh kalut dan sesak
Maka teladan kisahmu menjadi lampu
Membuat terang jalan yang harus kami jalani

Ketika kami tidak tahu harus berpegang entahlah
Bagai buih lautan terombang-ambing
Maka cerita hidupmu menjadi pondasi
Berdiri tegak penuh kepastian

Tidak tahukah, wahai
Betapa rindu kami menatap wajahmu
Berlinang air mata walau hanya membayangkannya
Terisak dalam diam, padahal kami sungguh tak tahu rupamu

Ada banyak berjuta tanya yang ingin disampaikan
Kenapa, mengapa, bagaimana, dan sebagainya
Tapi engkau sudah lama pergi
Terbentang waktu dan jarak yang tak bisa dilampaui
Tapi tidak mengapa
Biarlah cinta ini dalam senyap
Akan kami tunjukkan dengan ahklak terbaik warisanmu
Menjalankan wasiat2 yang kau tinggalkan
Hingga esok lusa
Semoga kesempatan itu ada
Tidak mengapa
Jika kami hanya bisa berdiri jauh menatapmu
Pun tidak masalah walau hanya sekejap saja
Itu lebih dari cukup, sungguh
Genap sudahlah cinta ini

*Tere Liye

MELUPAKAN

Ketika kita mencoba melupakan kejadian menyakitkan, melupakan orang yang membuat rasa sakit itu, maka sesungguhnya kita sedang berusaha menghindari kenyataan tersebut. Lari. Pun sama, ketika kita ingin melupakan orang yang pernah kita sayangi, hal-hal indah yang telah berlalu. Maka, sejatinya kita sedang berusaha lari dari kenangan atau sisa kenyataan tersebut.

Kabar buruk buat kita semua, mekanisme menyebalkan justeru terjadi saat kita berusaha lari menghindar, ingatan tersebut malah memerangkap diri sendiri. Diteriaki disuruh pergi, dia justeru mengambang di atas kepala. Dilempar jauh-jauh, dia bagai bumerang kembali menghujam deras. Semakin kuat kita ingin melupakan, malah semakin erat buhul ikatannya.

Bagaimana mengatasinya?

Justeru resep terbaiknya adalah kebalikannya. Logika terbalik. Apa itu? Mulailah dengan perasaan tenteram terhadap diri sendiri. Berdamai. Jangan lari dari kenangan tersebut. Biarkan saja dia hadir, bila perlu peluk erat. Terima dengan senang hati. Bilang ke diri sendiri: “Saya punya masa lalu seperti ini, pernah dekat dengan orang menyakitkan itu, saya terima semua kenyataan tersebut. Akan saya ingat dengan lega, karena saya tahu, besok lusa saya bisa jadi lebih baik–dan semua orang berhak atas kesempatan memperbaiki diri.” Letakkan kenangan tersebut dalam posisi terbaiknya.

Maka, mekanisme menakjubkan akan terjadi. Perlahan tapi pasti, kita justeru berhasil mengenyahkan ingatan itu. Pelan tapi pasti, kenangan tersebut justeru menjadi tidak penting, biasa-biasa saja. Dan semakin kita terbiasa, levelnya sama dengan seperti kenangan kita pernah beli bakso depan rumah, hanyut dibawa oleh hal-hal baru yg lebih seru. Ketahuilah, racun paling mematikan sekalipun, saat dibiasakan, setetes demi setetes dimasukkan dalam tubuh, dengan dosis yang tepat, besok lusa jika kita tidak semaput oleh racun tersebut, kita justeru akan jadi kebal. Apalagi kenangan, jelas bisa dibiasakan.

Itulah hakikat dari: jika kalian ingin melupakan sesuatu atau seseorang, maka justeru dengan mengingatnya. Terima seluruh ingatan itu.

*Tere Liye

SAJAK ADUHAI JANGAN

Dek, sungguh jangan mengambil keputusan saat sedang marah
Besok lusa boleh jadi kita akan menyesal tiada tara

Jangan pula membenci saat sedang tersinggung atau berbeda pendapat
Besok lusa boleh jadi kita kehilangan kesempatan memahami sesuatu lebih baik

Pun jangan menjanjikan sesuatu saat sedang hepi
Besok lusa mungkin saja kita juga akan susah payah melaksanakannya

Jangan mepet sekali mengerjakan sesuatu jika itu penting
Berilah waktu tambahan karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi

Pun jangan menunda-nunda sesuatu yang bisa dikerjakan segera
Karena tiada yang menjamin besok lusa masih ada waktuya

Dan terakhir
Sebagai penutup sajak ini
Sungguh, dek, jangan pernah putus cinta saat hujan turun
Itu bukan waktu yang terbaik
Carilah waktu lain, selain hujan
Karena di masa mendatang
Setiap kali hujan
Kita bukannya merasa adem nan tenteram
Atau asyik memeluk guling beranjak tidur
Sebaliknya, kita malah teringat masa lalu
Melukis kenangan

*Tere Liye