Tampilkan postingan dengan label Kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kehidupan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 Maret 2016

Takdir, Jalan Hidup dan kehidupan Kita berbeda



Takdir dan jalan hidup setiap orang dikehidupan dunia ini berbeda. Tidak ada yang sama. Tujuh Miliar manusia yang menjalani kehidupan hari ini, takdir dan jalan hidupnya berbeda. Juga miliar-an manusia yang pernah hidup di kehidupan dunia ini jalan hidupnya juga berbeda. Takdir hidupnya, jalan hidupnya sudah dituliskan sebelum ia dilahirkan dalam kehidupan ini. Manusia hanya bisa menulis takdir dan jalan hidupnya yang bernama Ikhtiar.

Tapi yang paling penting atas takdir kita adalah adalah penerimaan. melakukan yang bisa dan terbaik apa yang bisa kita lakukan atas kondisi yang telah ditentukan atas kita. jangan bandingkan dengan takdir dan jalan hidup orang lain. karena tidak sama. semua orang di kehidupan ini memilki "apa-apa" yang berbeda. tetap syukuri dan berikhtiar atas kehidupan yang diberikan sang Khalik di atas hamparan bumi ini...

Sabtu, 20 Februari 2016

Sajak-Sajak Perasaan

Apakah cinta itu menyakitkan? Tidak. Cinta itu justeru adalah energi terbaik untuk memastikan dunia ini seimbang dan survive. Lantas apa yang menyakitkan itu? Bukan cintanya, melainkan seperti: ditolak, itu sakit. Kesepian, itu juga sakit. Dilupakan, dikhianati, ditinggalkan, itu baru sakit. Kangen, terpisah oleh jarak, terkena tembok masalah, dsbgnya, dsbgnya, itu juga baru sakit. Kalau cintanya sih tidak.

Esensi cinta itu persis seperti seorang Ibu yang baru melahirkan, meski si bayi itu suka ngompol, dikit2 nangis, malam-malam terbangun, kurang tidur, badan letih, sampai sakit, tapi tetap saja si Ibu merawat bayinya dengan tulus, bukan? Energi apa yang membuat Ibu tersebut tetap melakukannya? Karena ada cinta di sana. Energi terbaik untuk memastikan dunia baik2 saja.

Lantas bagaimana mungkin kita sakit oleh cinta? Karena kita terkena duri kulit luarnya. Bukan karena substansi dalamnya.

Ketika seorang pemuda malang, jatuh cinta kepada gadis idaman, dan ternyata si gadis justeru menikah dengan orang lain, apakah cinta yang membuat si pemuda sakit hati? Tidak. Karena coba tanya saja ke pemuda itu, “Apakah, yang PENTING itu kau sendiri yang bahagia, atau gadis itu yang bahagia?” Para pencinta sejati pasti akan memilih: lebih baik gadis itu yang bahagia dengan orang yang memang dicintai gadis tersebut. Bukankah begitu jawabannya? Tapi kenapa kita masih tetap merasakan sakit? Bukan cintanya yang mengiris hati, melainkan karena kehilangan, karena ditolak, karena bertepuk sebelah tangan, itulah yang membuatnya sakit. Karena tidak terpenuhi harapan, karena bagai pungguk merindukan bulan, karena seperti roda belakang menatap roda depan, itu yang sakitnya sampai ke dalam sini.

Tapi, kan kalau saya tidak jatuh cinta di awal cerita, semua kondisi itu tidak akan terjadi, bukan? Kalau saya tidak jatuh cinta dengan gadis itu, bodo amat dia mau menikah dengan siapa, bukan urusan saya. Bukankah jelas sekali karena cinta itu yang menjadi penyebab semua masalah? Tidak. Lagi-lagi tidak, melainkan kitalah yang tidak pernah mau memahami resiko jatuh cinta itu sendiri. Kita sendiri yang lupa resiko, memegang api pasti terbakar, bermain hujan pasti basah. Pun saat jatuh cinta, pasti ada resiko berpisah (mau diterima atau tidak cintanya, mau menikah atau tidak, pasti berpisah).

Sayangnya, tidak ada mata pelajaran di sekolah-sekolah yang bisa mengajarkan esensi cinta. Tidak ada di Sejarah, juga tidak di IPS, IPA apalagi di pelajaran Matematika. Buku-buku, novel-novel, mungkin membahas tentang cinta, tapi itu terbatas pada kisah yang diceritakan, dengan sudut pandang si penulisnya. Film, apalagi, itu hanya proyeksi dari sutradara, penulis skenario. Tidak ada kursus singkat tentang cinta, tidak ada sekolah, jurusan, fakultas cinta. Semua orang harus menjalani sendiri pelajaran cinta itu dalam kehidupannya. Ada yang berhasil meraih esensi terbaiknya, ada yang hanya berkutat pada perasaan jatuh cinta anak muda kebanyakan. Tulisan ini pun tidak akan kuasa menjelaskan apa itu esensi cinta.

Jadi sebagai penutup, ingatlah selalu, cinta itu tidak pernah “jahat”. Yang jahat, meyakitkan, buruk, bikin sakit hati adalah kulit luarnya yang boleh jadi memang berduri dan penuh jebakan.

Tidak masalah satu dua kita tertusuk dalam sekali, dek, membuat nyeri hati sepanjang hari, minggu bahkan ada yang bertahun2, namanya juga masih belajar. Tidak masalah kita teriris sembilu hingga membuat dunia seperti terbalik setiap malam tiba, setiap menatap hujan, atau hanya sekadar disebut nama kota-nya, sudah membuat terdiam kelu. Tidak mengapa, namanya juga kita tidak pernah latihan menghadapi persoalan cinta ini. Tapi selalu pastikan, kita menjaga diri, menaati norma-norma, nilai-nilai kebaikan, kaidah-kaidah agama. Itu akan membuat kita tetap terkendali, dan tidak merusak. Besok lusa, boleh jadi kita lebih paham. Dan kita bahkan bisa benar-benar berdiri tegak seperti pemuda dalam contih tulisan ini, bisa berkata mantap: Tidak mengapa dia menikah dengan orang lain, sepanjang dia bahagia, aku pun turut bahagia.

*Tere Liye

SETIDAKNYA

Setidaknya perasaan itu sifatnya gratis. Rindu misalnya, tidak bayar sama sekali, kalau rindu itu sampai bayar, aduh, bisa jadi fakir semua para pencinta di dunia ini. Rindu satu jam bayar 10.000, rindu sepanjang tahun, berapa biayanya?

Setidaknya perasaan itu juga sifatnya tidak diskriminatif. Jatuh cinta misalnya, tidak ada diskriminasinya, kalau sampai ada, bisa jadi yang pesek dilarang jatuh cinta sama yang mancung, nyatanya boleh-boleh saja. Banyak yg pesek berjodoh sama yang mancung, malah kisah cinta mereka spesial.

Setidaknya perasaan itu juga sifatnya bukan ujian nasional. Kalau rasa sayang itu ada UN-nya, bisa jadi, angka kecurangan membumbung tinggi. Lihat saja, orang-orang bahkan ingin tahu sekali siapa yang melihat profile FB-nya? Bila perlu dengan software khusus.
Pada akhirnya, ketahuilah, setidaknya perasaan itu juga sifatnya berdiri sendiri. Bahkan ketika ditolak sekalipun, disuruh ngaca sana, dihina dsbgnya, kita tetap bisa bilang itu perasaan, bukan? Tetap bisa disebut cinta, tetap bisa dibilang sayang, bukan?

Maka lengkapilah dengan yang disebut: “kehormatan perasaan”, maka insya Allah kita bisa selalu menjaga diri. Jangan tumpah ruah perasaannya, bikin becek di timeline, jangan mau diajak berdua-duaan, dipegang-pegang, jangan mau. Jangan mau melakukan hal sia-sia hingga merusak diri sendiri. Barangsiapa bisa menjaga kehormatan perasaannya, dia akan bisa menjaga kehormatan dirinya.

*Tere Liye

BUKAN SEKEDAR

Cinta itu bukan sekadar berjumpa dan bersama.

Karena kalau itu, setiap hari banyak orang yang naik angkot/bus yang sama, berangkat sekolah/kantor, tapi tetap saja menggerutu. Tidak pernah jatuh cinta dengan angkot/bus tersebut.

Cinta itu bukan sekadar menyapa dan berbicara.

Karena kalau itu, setiap hari banyak orang yang berbusa2 bicara dengan orang yang sama, seperti petugas telepon, pengajar, penjaga toko, karyawan, dsbgnya, tapi tetap saja berkeluh kesan. Tidak pernah jatuh cinta meski begitu lama bicaranya.

Boleh jadi cinta itu adalah rasa syukur.
Mungkin pula cinta itu adalah rasa terima kasih.
Atau bahkan cinta itu adalah kedamaian hati.

SAJAK KAU HARUS TAHU 1

Kau harus tahu,
Sebongkah berlian tidak akan berkurang nilainya,
Meski ditemukan oleh orang yang tidak tahu betapa berharganya
Lantas dibuang begitu saja
Orang itu akan menyesal panjang

Maka,
Kau juga harus tahu
Seseorang yang amat berharga tidak akan berkurang nilainya
Meski disia-siakan oleh orang yang tidak pantas baginya
Lantas kemudian ditinggalkan begitu saja
Orang itulah yang akan menyesal panjang

SAJAK KAU HARUS TAHU 2

Kau harus tahu,
langit dan bumi tidak pernah menyatu,
tapi ketika hujan, mereka bisa bersatu erat saling bercengkerama begitu indah, atas setiap tetesnya.
Amat mesra saling menyapa.

Kau harus tahu,
lautan dan matahari tidak pernah menyatu.
tapi ketika sunset, matahari tenggelam di kaki langit sana,
maka garis horizon laut memeluk erat sang matahari.
Untuk besok berjanji kembali akan bersua
Di sini, di tempat yg sama, di waktu terjanjikan

Kau harus tahu,
bulan dan permukaan kolam jauh saja letaknya
tapi saat purnama, tataplah permukaan kolam yang tenang
maka bulan persis berada di dalam relung hatinya
Memantulkan bayangan begitu anggun
kebersamaan singkat yang begitu mempesona

Maka, apalagi kita?
Manusia yang tinggal di tanah yg sama
Kita tidak dipisahkan bagai langit dan bumi
Kisah cinta kita bisa begitu spesial
Di tangan orang-orang yang bersabar dan senantiasa tahu batasnya.
Sunggu percayalah

*Tere Liye

SAJAK KETIKA

Ketika kita mencintai seseorang
Hanya untuk tahu
Ternyata dia mencintai orang lain

Ketika kita menunggu begitu lama
Hanya untuk tahu
Ternyata dia justeru sedang menunggu (orang lain)

Ketika kita sudah melakukan yang terbaik
Tapi tetap gagal juga, hingga sesak bertanya
Harus sebaik apalagi usaha kita agar berhasil?

Ketika kita menginginkan sesuatu
Ternyata yang kita dapatkan sesuatu yang justeru tidak kita butuhkan
Membuat berseru kesal, kenapa dan kenapa?

Ketika kita tidak mengerti
Kenapa semua seperti berlawanan dengan maunya kita
Kenapa doa-doa kita seolah tidak terjawab

Maka, mungkin itulah saatnya
Tiba waktunya untuk menyadari
Boleh jadi ada skenario lebih indah telah menanti
Menunggu kita bersedia menerimanya
Tersenyum lapang bahwa semua baik-baik saja

Karena boleh jadi
Ketika kita mencintai seseorang, dan dia mencintai orang lain
Sebenarnya ada yang justeru sedang mencintai kita dalam diam

Ketika kita menunggu begitu lama, dan dia justeru sedang menunggu (orang lain)
Sebenarnya ada yang justeru tengah menunggu, kapan kita akan menoleh padanya

*Tere Liye

HANYA KATA-KATA

Sakit hati itu frase saja
Tergeletak begitu saja tanpa arti
Hingga kita mengalaminya sendiri
Barulah dia utuh bermakna: “sakit hati”

Rindu itu juga hanya kata-kata
Teronggok begitu saja tanpa makna
Hingga kita menemuinya sendiri
Barulah dia utuh hakikatnya: “rindu”

Pun “cinta”, itu kata-kata saja
Bisa dituliskan di mana-mana, kosong berdebu
Hingga kita menjalaninya sendiri
Barulah dia utuh definisinya: “cinta”

Apalagi menikah, itu mungkin status saja
Bisa ditype-ex jika ditulis di atas kertas
Hingga kita beranjak melaluinya
Barulah utuh maknanya: “menikah”

SAJAK SUNGGUH KAU BOLEH PERGI

Siang pasti digantikan malam
Sekeras apapun siang bertahan
Matahari pasti tumbang
Dan gelap menyelimuti
Siang pasti pergi
Dan sungguh kau boleh pergi

Kelopak bunga mawar pasti rontok
Sekeras apapun dia ingin mekar lama
Pasti tiba masanya layu
Dan tangkai-tangkai membisu
Bunga mawar pasti pergi
Dan sungguh kau boleh pergi

Hujan pasti reda
Selama apapun dia hendak turun
Pasti tiba masanya habis
Dan menyisakan basah di halaman
Hujan pasti pergi
Dan sungguh kau boleh pergi

Maka
Apalagi urusan perasaan
Cinta bisa berganti benci
Percaya memudar berganti kusam ragu
Pun komitmen menipis berubah jadi lupa
Kau boleh pergi
Sungguh boleh.

Tapi aku akan tetap di sini
Meyakini bahwa
Besok pagi, malam pun akan berganti siang
Mawar baru akan merekah ulang
Dan hujan berikutnya pasti kan datang

Kau sungguh boleh pergi.

*Tere Liye

SAJAK JALANKU MASIH PANJANG

Wahai perasaan
Kau buat pagiku jadi mendung, soreku jadi kelam
Kau buat siangku jadi gelap, dan malam semakin gulita
Kau buat beberapa menit lalu aku gembira, untuk kemudian bersedih hati

Wahai perasaan
Kau buat aku berlari di tempat
Semakin berusaha berlari, kaki tetap tak melangkah
Kau buat aku berteriak dalam senyap
Kau buat aku menangis tanpa suara
Kau buat aku tergugu entah mau apalagi

Wahai perasaan
Kau buat aku seperti orang gila
Mengunjungi sesuatu setiap saat, untuk memastikan sesuatu
Padahal buat apa?
Ingin tahu ini, itu, untuk kemudian kembali sedih
Padahal sungguh buat apa?

Wahai perasaan
Kau buat aku seperti orang bingung
Semua serba salah
Kau buat aku tidak selera makan, malas melakukan apapun
Memutar lagu itu-itu saja,
Mencoret-coret buku tanpa tujuan
Mudah lupa dan ceroboh sekali

Wahai perasaan
Cukup sudah
Kita selesaikan sekarang juga
Karena,
Jalanku masih panjang
Aku berhak atas petualangan yang lebih seru

Selamat tinggal
Jalanku sungguh masih panjang….

SAJAK MENCINTAIMU DALAM SENYAP

Ketika kami tidak tahu harus apalagi
Gelap di sekitar, penuh kalut dan sesak
Maka teladan kisahmu menjadi lampu
Membuat terang jalan yang harus kami jalani

Ketika kami tidak tahu harus berpegang entahlah
Bagai buih lautan terombang-ambing
Maka cerita hidupmu menjadi pondasi
Berdiri tegak penuh kepastian

Tidak tahukah, wahai
Betapa rindu kami menatap wajahmu
Berlinang air mata walau hanya membayangkannya
Terisak dalam diam, padahal kami sungguh tak tahu rupamu

Ada banyak berjuta tanya yang ingin disampaikan
Kenapa, mengapa, bagaimana, dan sebagainya
Tapi engkau sudah lama pergi
Terbentang waktu dan jarak yang tak bisa dilampaui
Tapi tidak mengapa
Biarlah cinta ini dalam senyap
Akan kami tunjukkan dengan ahklak terbaik warisanmu
Menjalankan wasiat2 yang kau tinggalkan
Hingga esok lusa
Semoga kesempatan itu ada
Tidak mengapa
Jika kami hanya bisa berdiri jauh menatapmu
Pun tidak masalah walau hanya sekejap saja
Itu lebih dari cukup, sungguh
Genap sudahlah cinta ini

*Tere Liye

MELUPAKAN

Ketika kita mencoba melupakan kejadian menyakitkan, melupakan orang yang membuat rasa sakit itu, maka sesungguhnya kita sedang berusaha menghindari kenyataan tersebut. Lari. Pun sama, ketika kita ingin melupakan orang yang pernah kita sayangi, hal-hal indah yang telah berlalu. Maka, sejatinya kita sedang berusaha lari dari kenangan atau sisa kenyataan tersebut.

Kabar buruk buat kita semua, mekanisme menyebalkan justeru terjadi saat kita berusaha lari menghindar, ingatan tersebut malah memerangkap diri sendiri. Diteriaki disuruh pergi, dia justeru mengambang di atas kepala. Dilempar jauh-jauh, dia bagai bumerang kembali menghujam deras. Semakin kuat kita ingin melupakan, malah semakin erat buhul ikatannya.

Bagaimana mengatasinya?

Justeru resep terbaiknya adalah kebalikannya. Logika terbalik. Apa itu? Mulailah dengan perasaan tenteram terhadap diri sendiri. Berdamai. Jangan lari dari kenangan tersebut. Biarkan saja dia hadir, bila perlu peluk erat. Terima dengan senang hati. Bilang ke diri sendiri: “Saya punya masa lalu seperti ini, pernah dekat dengan orang menyakitkan itu, saya terima semua kenyataan tersebut. Akan saya ingat dengan lega, karena saya tahu, besok lusa saya bisa jadi lebih baik–dan semua orang berhak atas kesempatan memperbaiki diri.” Letakkan kenangan tersebut dalam posisi terbaiknya.

Maka, mekanisme menakjubkan akan terjadi. Perlahan tapi pasti, kita justeru berhasil mengenyahkan ingatan itu. Pelan tapi pasti, kenangan tersebut justeru menjadi tidak penting, biasa-biasa saja. Dan semakin kita terbiasa, levelnya sama dengan seperti kenangan kita pernah beli bakso depan rumah, hanyut dibawa oleh hal-hal baru yg lebih seru. Ketahuilah, racun paling mematikan sekalipun, saat dibiasakan, setetes demi setetes dimasukkan dalam tubuh, dengan dosis yang tepat, besok lusa jika kita tidak semaput oleh racun tersebut, kita justeru akan jadi kebal. Apalagi kenangan, jelas bisa dibiasakan.

Itulah hakikat dari: jika kalian ingin melupakan sesuatu atau seseorang, maka justeru dengan mengingatnya. Terima seluruh ingatan itu.

*Tere Liye

SAJAK ADUHAI JANGAN

Dek, sungguh jangan mengambil keputusan saat sedang marah
Besok lusa boleh jadi kita akan menyesal tiada tara

Jangan pula membenci saat sedang tersinggung atau berbeda pendapat
Besok lusa boleh jadi kita kehilangan kesempatan memahami sesuatu lebih baik

Pun jangan menjanjikan sesuatu saat sedang hepi
Besok lusa mungkin saja kita juga akan susah payah melaksanakannya

Jangan mepet sekali mengerjakan sesuatu jika itu penting
Berilah waktu tambahan karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi

Pun jangan menunda-nunda sesuatu yang bisa dikerjakan segera
Karena tiada yang menjamin besok lusa masih ada waktuya

Dan terakhir
Sebagai penutup sajak ini
Sungguh, dek, jangan pernah putus cinta saat hujan turun
Itu bukan waktu yang terbaik
Carilah waktu lain, selain hujan
Karena di masa mendatang
Setiap kali hujan
Kita bukannya merasa adem nan tenteram
Atau asyik memeluk guling beranjak tidur
Sebaliknya, kita malah teringat masa lalu
Melukis kenangan

*Tere Liye

Sabtu, 28 November 2015

Finlandia, Negara dengan Sistem Pendidikan terbaik di Dunia

Ilustrasi Pendidikan di Finlandia

Negara yang kelas wahid sistem pendidikannya bukanlah AS, Jepang atau Jerman. Akan tetapi, kiblat pendidikan dunia saat ini mengarah ke negara di ujung utara Eropa yakni, finlandia. Amerika Serikat sendiri berada jauh dibawah level Finlandia, tepatnya di urutan ke-17. Lalu, dimana daya tariknya sistem pendidikan di Finlandia dengan negara-negara lainnya khususnya Indonesia? Jawabannya adalah di kemandirian siswa dan gurunya.
Di Negara Finlandia kemandirian dalam mengikuti proses belajar mengajar itu tidak hanya dinikmati oleh guru-gurunya yang begitu dihormati tetapi juga ditularkan kepada para pelajar melalui berbagai kesempatan-kesempatan penting. Salah satunya dimana setiap pelajar diberi otonomi khusus untuk menentukan jadwal ujiannya untuk mata pelajaran yang menurutnya sudah dia kuasai.
Sistem pendidikan inilah yang dipertahankan oleh Finlandia hingga akhirnya berhasil mengantarkan negara ini berada pada posisi puncak sebagai negara yang paling berhasil mengelola pendidikan nasionalnya. Fantastiknya, dalam evaluasi belajar, angka ketidak lulusan secara nasional tidak pernah melebihi 2 persen pertahunnya. Finlandia juga tidak mengenal istilah ujian semester apalagi ujian nasional layaknya ditanah air. Evaluasi belajar secara nasional dilakukan tanpa ada intervensi pemerintah sekali pun. Karena setiap sekolah bahkan guru berkuasa penuh untuk menyusun kurikulumnya sendiri. Jadi jangan pernah berhayal bahwa guru-guru di Finlandia disibukkan untuk mengejar terget-target tertentu karena di negeri ini guru selalu menyesuaikan bahan ajarnya dengan kebutuhan setiap pelajar. Di Finlandia siapa pun presidennya dan menteri pendidikannya tidak akan berpengaruh signifikan terhadap masa depan pendidikan. Karena fungsi pemerintah dalam memajukan sektor pendidikan adalah dukungan finansial dan legalitas. Mau bagaimana caranya, maka gurulah yang berwewenang atas itu karena guru dipandang sebagai sosok yang paling mengerti mau dimana wajah pendidikan Finlandia dibawa dimasa yang akan datang.
Sistem ini telah berdampak positif kepada pola cara mengajar guru yang tidak terlalu dipusingkan oleh hiruk pikuknya politik nasional negaranya. Keseriusan negara Finlandia menyokong keberhasilan pendidikan nasionalnya dibuktikan dengan diterapkannya kebijakan gratis sekolah 12 tahun. Kerenkan? Guru-guru Finlandia adalah lulusan terbaik setiap perguruan tinggi dan mereka harus masuk dalam kelompok 10 besar lulusan terbaik. Jika tidak, jangan pernah bermimpi jadi guru di negeri ini.
Itulah sebabnya guru-guru di Finlandia betul-betul berdedikasi tinggi. Gajinya besar dong? Tidak. Guru-guru Finlandia justru digaji dengan gaji secukupnya bahkan bisa dikatakan kurang memadai. Tetapi gurunya begitu menikmati profesinya hal ini karena mayoritas masyarakat Finlandia begitu menghormati dan menghargai profesi seorang guru. Di Finlandia hanya ada guru-guru dengan kualitas terbaik dengan pelatihan terbaik pula. Profesi guru sendiri adalah profesi yang sangat dihargai, meski gaji mereka tidaklah fantastis. Lulusan sekolah menengah terbaik biasanya justru mendaftar untuk dapat masuk di sekolah-sekolah pendidikan, dan hanya 1 dari 7 pelamar yang bisa diterima. Persaingannya lebih ketat daripada masuk ke fakultas hukum atau kedokteran!
Jika negara-negara lain percaya bahwa ujian dan evaluasi bagi siswa merupakan bagian yang sangat penting bagi kualitas pendidikan, Finlandia justru percaya bahwa ujian dan testing itulah yang menghancurkan tujuan belajar siswa. Terlalu banyak testing membuat kita cenderung mengajarkan kepada siswa untuk semata lolos dari ujian, ungkap seorang guru di Finlandia. Pada usia 18 th siswa mengambil ujian untuk mengetahui kualifikasi mereka di perguruan tinggi dan dua pertiga lulusan melanjutkan ke perguruan tinggi. Siswa diajar untuk mengevaluasi dirinya sendiri, bahkan sejak Pra-TK! Ini membantu siswa belajar bertanggungjawab atas pekerjaan mereka sendiri, kata Sundstrom, kepala sekolah di SD Poikkilaakso, Finlandia. Siswa didorong untuk bekerja secara independen dengan berusaha mencari sendiri informasi yang mereka butuhkan. Suasana sekolah sangat santai dan fleksibel. Adanya terlalu banyak komando hanya akan menghasilkan rasa tertekan, dan mengakibatkan suasana belajar menjadi tidak menyenangkan. Kelompok siswa yang lambat mendapat dukungan intensif. Hal ini juga yang membuat Finlandia sukses.
Berdasarkan penemuan PISA, sekolah-sekolah di Finlandia sangat kecil perbedaan antara siswa yang berprestasi baik dan yang buruk dan merupakan yang terbaik menurut OECD. Remedial tidaklah dianggap sebagai tanda kegagalan tapi sebagai kesempatan untuk memperbaiki. Seorang guru yang bertugas menangani masalah belajar dan prilaku siswa membuat program individual bagi setiap siswa dengan penekanan tujuan-tujuan yang harus dicapai, umpamanya: Pertama, masuk kelas; kemudian datang tepat waktu; berikutnya, bawa buku, dlsb. Kalau mendapat PR siswa bahkan tidak perlu untuk menjawab dengan benar, yang penting mereka berusaha.
Para guru sangat menghindari kritik terhadap pekerjaan siswa mereka. Menurut mereka, jika kita mengatakan “Kamu salah” pada siswa, maka hal tersebut akan membuat siswa malu. Dan jika mereka malu maka ini akan menghambat mereka dalam belajar. Setiap siswa diperbolehkan melakukan kesalahan. Mereka hanya diminta membandingkan hasil mereka dengan nilai sebelumnya, dan tidak dengan siswa lainnya. Setiap siswa diharapkan agar bangga terhadap dirinya masing-masing. Ranking hanya membuat guru memfokuskan diri pada segelintir siswa tertentu yang dianggap terbaik di kelasnya.
Ditanah air Indonesia, sebenarnya sistem pendidikan Finlandia telah terterapkan sejak tahun 1961 melalui wadah gerakan pramuka. Apa yang berlaku di Finlandia jelas-jelas merupakan sistem pendidikan yang berlalu di gerakan pramuka. Dimana setiap kecakapan dan keterampilan dibidang tertentu yang dimiliki oleh setiap anggota pramuka, bila sudah merasa mampu bisa mengusulkan diri untuk di uji. Disamping itu, setiap 32 orang anggota pramuka dibina oleh 3 orang pembina secara terus menerus. Akan tetapi sistem pendidikan kepanduan ditanah air ini tidak mendapat respon yang positif ditanah air.
Buktinya kendati berhasil melahirkan kader-kader bangsa yang mandiri, negara ternyata tidak berani mengalokasikan dana BOS yang ada pada setiap sekolah untuk sepersekian persen wajib dipergunakan untuk mengelola gerakan pramuka di gugus depan. Pendidikan nasional kita yang masih sarat dengan kepentingan politik kepala daerah menjadikan potret pendidikan begitu semraut. Pelaksanaan UN yang jelas lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya selalu dipertahankan untuk alasan yang tidak jelas.
Bahkan ironisnya lagi, UN telah mengajarkan bangsa ini bagaimana berlaku curang dan menipu. Gilanya lagi peserta UN dikawal dan diamati setiap detik melalui layar CCTV. Seperti teroriskan. Cara-cara gila ini begitu dibangga-banggakan oleh pemerintah bahkan institusi pendidikan sendiri. Padahal metode ini punya dampak physicologi bagi para pelajar dimana UN benar-benar menjadi beban berat.
Jadi jangan heran bila di Nias pada hari pertama UN ada siswa yang meninggal dunia begitu menerima lembar soal ujian. Finlandia tidak pernah membebani muridnya untuk hal-hal yang kurang bermutu atau mengurangi ke-kreativitasan seorang anak setelah meninggalkan rumah sekolah. Maka, tugas tugas (PR), les tambahan dan bimbingan ini dan itu nyaris tidak pernah ada di Finlandia. Bagaimana dengan tanah air? Tekanan yang begitu berat sangat terasa apalagi menjelang ujian nasional. Setiap murid selalu diberi les tambahan yang berlebihan, pelajar di wajibkan mengikuti Tryout hampir tiap bulan dengan alasan untuk mengukur kemampuan siswa. Dirumah disuguhi lagi dengan tugas-tugas berat bahkan ada lagi menu les tambahan yang ditawarkan padahal nuansa bisnisnya lebih terasa daripada urgensinya bagi peserta didik. Repot bukan?
Alhasil, pelajar tanah air lahir dan besar tanpa pernah mempergunakan otaknya untuk berkreativitas. Generasi muda pun besar penuh dengan tekanan. Jadi jangan heran, walaupun lulus UN 100 persen ternyata persentasi lulus SMPTN berbanding terbalik dengan kelulusan UN.
Inilah setidaknya potret pendidikan kita dewasa ini. Indonesia jatuh kepada tingkat kekhawatiran yang terlalu berlebihan. Alih-alih untuk mencerdaskan bangsa tetapi cara-cara yang dilakukan justru mengantarkan bangsa ini kelembah kehancuran. Oleh karena itu kita perlu berbenah. Mengembalikan sistem pendidikan kezaman dahulu kala (seperti cerita orangtua kita) dimana setiap anak dan orangtua begitu menghormati guru perlu kita lakukan.
Guru harus diberi otoritas penuh untuk mengatur kurikulumnya sendiri. Setiap anak juga tidak dibebani dengan tugas ini dan itu. Bahkan birokrasi pendidikan kita yang berbelit-belit perlahan-lahan harus dikurangi. Wajib belajar 12 tahun mutlak harus dilakukan tentunya dengan biaya gratis. Tidak hanya itu wajar 12 tahun itu harus dengan satu izajah saja yaitu izajah SMA. Sedangkan untuk SD dan SMP tidak lagi mengeluarkan izajah mengingat tuntutan dunia kerja saat ini pun izajah dua jenjang pendidikan ini tidak begitu diperlukan.
Oleh karena itu, perpindahan dari tingkat SD ke SMP cukuplah dengan nilai rapor begitu juga dari SMP ke SMA. Maka evaluasi belajar secara nasional hanya dilakukan dijenjang SMA ketika yang bersangkutan akan melanjut keperguruan tinggi atau merambah dunia kerja. Menggratiskan pendidikan dinegara ini bukanlah hal yang mustahil. Bukankah 40 persen APBN kita mark-up dan 30 persennya dikorupsi.
Jadi andai pengelolaan keuangan negara kita ditata dengan baik maka tidak mustahil dimasa-masa yang akan datang biaya pendidikan kita yang saat ini ditampung 20 persen dalam APBN kedepannya akan meningkat menjadi 50 persen.
Bila sudah demikian, bukankah pendidikan kita sudah bisa digratiskan.

Selasa, 25 Agustus 2015

Pulang: Perjalanan Reflektif Seorang Penghianat

Apa yang Anda rasakan bila berkesempatan untuk pulang kampung setelah tujuh tahun merantau tanpa pernah memberi kabar kepada keluarga selama perantauan itu? Tentu Anda akan merasakan kerinduan yang sangat terhadap orang-orang terkasih yang telah Anda tinggalkan. Namun, di saat yang sama, Anda juga akan merasakan kebimbangan. Akankah keluarga Anda menyambut kepulangan ini dengan hangat? Apakah segala hal tetap sama seperti saat sebelum Anda pergi? Apakah semua anggota keluarga masih hidup? Apakah kerabat dan sahabat masih ada dan tinggal di tempat yang sama?

Rangkaian pertanyaan demikian juga berkecamuk di benak Tamin, tokoh protagonis dalam novel Pulang karya Toha Mochtar yang terbit 1957. Secara ringkas, novel ini berkisah tentang Tamin, mantan serdadu Heiho, yang dikirim Jepang ke Burma untuk memerangi sekutu. Setelah Jepang takluk kepada Sekutu, Tamin kembali ke Indonesia yang sudah merdeka tetapi bekerja sebagai tentara bayaran Sekutu untuk memerangi para pejuang revolusi yang gigih mengusir Sekutu dan Belanda dari Indonesia. Setelah peperangan selesai, Tamin pun pulang kembali ke desanya yang digambarkan oleh Toha sebagai sebuah desa kecil di kaki Gunung Wilis, sebuah tempat di daerah Jawa Timur. Kepulangan Tamin didorong oleh kerinduannya yang memuncak untuk bertemu dengan kedua orangtuanya yang telah renta dan adik perempuan yang disayanginya, Sumi.

Selain alasan sentimentil ini, kembalinya Tamin ke kampung halaman juga didorong oleh keinginannya untuk menjadi petani untuk mengelola sawah orangtuanya dan hidup secara sederhana di desa yang damai dengan tenteram. Sejak kakinya kembali menapaki tanah tumpah kelahirannya itu, Tamin telah membayangkan dirinya akan bergumul dengan lumpur yang subur dan gembur yang akan menyibukkan hari-hari ke depan dan memeras habis keringatnya. Muluskah impiannya untuk menjadi petani dan hidup sederhana di desa kelahirannya ini?

Konflik novel diawali dengan protagonis Tamin yang hidup dalam kebimbangan, keraguan, dan ketakutan. Meskipun dorongan untuk kembali bertemu dengan keluarganya begitu kuat, Tamin bimbang kalau-kalau rumah dan keluarganya sudah tidak seperti dulu saat dia meninggalkan mereka. “… apa yang bisa terjadi selama tujuh tahun ini?” dan “Apa gerangan yang bisa diberikan oleh waktu sepanjang itu kepada adinya, Sumi, satu-satunya yang tercinta di bumi ini?” (hal. 7). Dua pertanyaan retoris ini menjadi bukti kebimbangan Tamin saat hendak melangkahkan kaki ke halaman rumahnya yang sama sekali tak berubah. Namun kebimbangan ini terkubur oleh rasa kangen yang kuat. “Apakah yang dapat lebih menggelorakan hati daripada mengalami pertemuan dengan keluarga kembali?” demikian pikir Tamin sebagaimana dilukiskan dalam cerita (hal. 7).

Benar bahwa perjalanan pulang kampung Tamin membawa kebahagiaan. Kerinduannya akan kedua orangtua dan adiknya terobati. Keinginannya untuk kembali bergulat dengan sawah pun dapat terrealisasi. Namun, pengalaman Tamin sebagai heiho dan prajurit bayaran menjadi duri dalam daging yang akhirnya menggerogoti konflik batin Tamin.

Konflik batin ini dipicu oleh obrolan Tamin dengan ibunya saat ia menanyakan kabar teman-teman sebayanya. Dari cerita ibunya diketahui sahabatnya Pardan gugur dalam perang Surabaya melawan Nica. Sedangkan Gamik, sahabat lain yang berpostur kerdil dan kurang diperhitungkan kekuatan fisiknya, gugur dalam pencegatan melawan serdadu Belanda di samping sawah desanya (hal. 23). Kisah kepahlawan dua pemuda sahabatnya ini tentu saja menampar nurani Tamin. Sementara ia memerangi para pejuang kemerdekaan dan mendapat keuntungan finansial untuk hal tersebut, banyak pemuda sebayanya rela gugur demi kejayaan bangsa.

Kepada ibu dan anggota keluarganya, Tamin dapat menyembunyikan gejokan batin ini. Setiap kali mereka memintanya untuk menceritakan pengalaman selama perantauan tujuh tahunnya, ia mengelak dan selalu mengatakan bahwa kisah perantauannya tidak ada yang istimewa. Namun kepada orang-orang desa yang memaksanya berbagi cerita dan pengalaman selama perantauan, ia tak kuasa menolak permintaan mereka. Peristiwa ini terjadi di suatu perkumpulan para bapak-bapak di pendapa kelurahan saat mereka bermusyawarah untuk memugar makam Gamik sebagai bentuk penghormatan kepadanya yang telah gugur dan secara resmi menobatkan Gamik sebagai pahlawan (hal. 65-67).

Musyawarah desa itu berujung bencana bagi Tamin. Sepengetahuan warga desa, perantauan Tamin adalah untuk berjuang mengusir penjajah. Tersudut oleh anggapan yang telah tertanam di benak mereka, Tamin terpaksa mengarang cerita. Kepada mereka, Tamin merekayasa cerita bahwa ia tergabung dalam rombongan heiho terakhir yang tertahan di Tanjung Priok dan batal berangkat ke Burma. Akhirnya bergabung ke Laskar Rakyat dan bersumpah tak hendak pulang sebelum perjuangan berakhir. Dengan hati tersayat, ia terpaksa berbohong bahwa ia bertempur sampai di Gunung Putri dan Gunung Cupu di Tasik (hal. 69).

Cerita heroik ini menghasilkan decak kagum kepada pendengarnya, namun membuat dada Tamin kosong. Tamin sepenuhnya sadar bahwa dirinya telah mengenakan topeng kepalsuan. Pengkhianatannya terhadap bangsa dan tanah airnya telah ditutupi dengan rekayasa imajiner yang begitu sempurnya. Bualan Tamin ini terus menggelinding di kalangan warga desa dan akhirnya berubah menjadi bola salju yang siap menerjang. Setiap kali ada perkumpulan, warga desa ingin mendengar kehebatan kisah Tamin. Dengan sangat terpaksa, Tamin pun harus mengulang cerita yang sama sehingga hampir seluruh warga desa berpikir bahwa Tamin pun tak kalah hebat dengan Gamik. Setiap kali pujian dan kekaguman disampaiakan, bukan kesenangan yang Tamin dapatkan melainkan penyesalan dan pengkhianatan yang semakin membebani jiwanya.

Klimak konflik terjadi manakala keluarganya mendengar cerita kehebatan perjuangan Tamin dari warga desa, bukan dari mulut Tamin sendiri. “Cerita itu indah sekali, Kang. Mengapa engkau tidak menceritakan itu kepada kami dahulu?” tanya Sumi, adiknya (hal. 85). Mendengar pertanyaan ini, hati Tamin bak tertusuk samurai. Dia meminta adiknya untuk tidak memaksanya menceritakan rekayasa bualannya. Tentu saja adiknya tetap memaksanya untuk bercerita karena kisah itu dapat menjadi kebanggaan keluarga. Karena tak kuasa menahan beban batin yang telah memuncak, Tamin pun menampar adik yang dikasihinya ini dengan sekuat tenaga hingga pingsan.

Setelah peristiwa tersebut, Tamin merasakan kehampaan hidup yang luar biasa. Dia menganggap dirinya sebagai penghianat yang tak layak mendapatkan pujian. Kepalsuan hidup telah mewarnai dirinya hingga akhirnya ia pun meninggalkan desanya, meninggalkan impiannya untuk menjadi petani dan hidup sederhana dengan tentram. Ia merasa berdosa dan telah mengkhianati hati nuraninya. Meninggalkan desanya merupkan cara terbaik untuk menghapus jejak pengkhianatan meskipun untuk hal ini ia harus mengubur segala impian sederhananya.

Pulang adalah novel yang sangat sederhana dengan plot yang sangat linear. Jalan cerita disusun secara kronologis dan disajikan dengan narasi yang cukup memikat. Novel ini hanya memiliki 104 halaman, sebuah novel yang sangat pendek untuk ukuran zaman sekarang. Kepulangan Tamin mencerminkan refleksi perjalanan hidup keseluruhan Tamin. Kepulangan reflektif ini memberikan pembelajaran yang menarik bagi pembaca, terutama terkait dengan kejujuran. Benar adagium yang selama ini berlaku dalam masyarakat kita bahwa kebohongan yang ditutup dengan kebohongan lain hanya akan membawa bencana.
 
sumber asli : http://www.menulisesai.com/2013/02/pulang-perjalanan-reflektif-seorang.html

Jumat, 14 Agustus 2015

Taj Mahal : Simbol Kekuatan Cinta

Cinta menempati bagian posisi terpenting dalam kehidupan makhluk Allah Swt yang bernama manusia. Cinta punya peran sangat sentral dalam kehidupan manusia di bumi. tidak ada manusia yang bisa merasakan dan menemukan kebahagian tanpa ada cinta dihatinya. Dunia ini akan damai dan tentram jika semua manusia bisa hidup bisa saling mencintai dan mengasihi satu sama lainnya. Cinta membuat orang rela mengorbankan apapun untuk cintanya.
Inilah yang dilakukan oleh Kaisar Mughal ke-4, Kaisar Shah Jahan untuk Istri tercintanya Mumtaz Mahal dengan membangun sebuah museum megah yang bernama Taj Mahal di Agra, India, yang hingga hari ini tercatat dalam sejarah dan menjadi simbol kekuatan cinta oleh manusia abad modern ini. Pembangunannya menghabiskan waktu 22 tahun (1630-1653) dan merupakan sebuah adi karya dari arsitektur bangsa mughal India.
Monumen ini dibangun setelah Istrinya yang berasal dari bangsa iran ini meninggal dunia setelah melahirkan anak mereka yang ke empat belas. Atas perintah Shah Jahan Monumen ini di rancang dan didesain oleh arsitek bernama Ustad Ahmad Lahouri bergayakan asimilasi dari arsitektur Mughal dan Iran, yang baru mulai di buka untuk umum pada tahun 1648. 
Ustad Ahmad Lahouri mengumpulkan 20.000 orang pekerja yang terdiri dari tukang batu, tukang emas, dan pengukir yang termasyhur dari seluruh dunia.
Dengan bentuk bumbung, kubah dan menara yang buat dari marmer putih, serta seni mozaik yang indah, Taj Mahal merupakan salah satu dari Tujuh keajaiban di dunia. Sebanyak 43 jenis situs permata, termasuknya yaitu berlian, jed, kristal, topaz dan nilam telah digunakan untuk memper indah Taj Mahal.
Taj Mahal dibangun dengan simetris dan makam Mumtaz Mahal berada tepat di tengah bangunan Taj Mahal. Satu-satunya yang tidak simetris adalah makam Shah Jahan yang terletak disebelah makam Mumtaz Mahal karena makam ini tidak ada dalam rencana awal pembangunan. Awalnya Shah Jahan berniat memdirikan Taj Mahal versi hitam untuk menunjukkan kesedihannya pada dunia sepeninggal Mumtaz Mahal dan juga sebagai tempat peristirahatan terakhir untuk dirinya. tetapi rencana ini digagalkan oleh putranya. Pembuatan Taj Mahal sendiri memakan masa selama 22 tahun.
Hingga Sejarah mencatat akan kekuatan sebuah cinta telah melahirkan sebuah karya monumental nan Agung dan indah lewat sebuah usaha nyata di anak benua India.

Minggu, 09 Agustus 2015

Quotes Tere Liye: Novel Rindu

“Cara terbaik menghadapi masa lalu adalah dengan dihadapi. Berdiri gagah. Mulailah dengan damai menerima masa lalumu. Buat apa dilawan? Dilupakan? Itu sudah menjadi bagian dari hidup kita. Peluk semua kisah itu. Berikan dia tempat terbaik dalam hidupmu. Itulah cara terbaik mengatasinya. Dengan kau menerimanya, perlahan-lahan dia akan memudar sendiri. Disiram oleh waktu, dipoles oleh kenangan baru yang lebih bahagia.
Apakah mudah melakukannya? Itu sulit. Tapi bukan berarti mustahil.”
Tere Liye, Rindu

“Lepaskanlah. Maka besok lusa, jika dia cinta sejatimu, dia pasti akan kembali dengan cara mengagumkan. Ada saja takdir hebat yang tercipta untuk kita. Jika dia tidak kembali, maka sederhana jadinya, itu bukan cinta sejatimu. Hei, kisah-kisah cinta di dalam buku itu, di dongeng-dongeng cinta, atau hikayat orang tua, itu semua ada penulisnya.
Tetapi kisah cinta kau, siapa penulisnya? Allah. Penulisnya adalah pemilik cerita paling sempurna di muka bumi. Tidakkah sedikit saja kau mau meyakini bahwa kisah kau pastilah yang terbaik yang dituliskan.
 Tere Liye, Rindu 
“Berhenti lari dari kenyataan hidupmu. Berhenti cemas atas penilaian orang lain, dan mulailah berbuat baik sebanyak mungkin.” 
 Tere Liye, Rindu 

“Tidak mengapa kalau kau patah hati, tidak mengapa kalau kau kecewa, atau menangis tergugu karena harapan, keinginan memiliki, tapi jangan berlebihan. Jangan merusak diri sendiri. Selalu pahami, cinta yang baik selalu mengajari kau agar menjaga diri. Tidak melanggar batas, tidak melewati kaidah agama. Karena esok lusa, ada orang yang mengaku cinta, tapi dia melakukan begitu banyak maksiat, menginjak-injak semua peraturan dalam agama, menodai cinta itu sendiri.” 
 Tere Liye, Rindu

Logis Anies Dirikan Partai Sendiri?

   If you want a thing done well, do it yourself.” – Napoleon Bonaparte, Kaisar Prancis (1804-1814) Tahun itu adalah tahun 2014, ketika seb...